Sholat Gerhana : Tata Cara, Bacaan dan Doa

by anonim , at 04.59
Shalat gerhana dalam dunia islam disebut dengan istilah khusuf (الخسوف) dan juga kusuf (الكسوف). Secara pengertian, kedua kata tersebut memiliki makna yang sama, sehingga melaksanakan shalat gerhana matahari ataupun gerhana bulan sama-sama disebut kusuf juga dinamai khusuf.

Meski begitu, para ulama umumnya menggunakan istilah kusuf untuk gerhana matahari, dan khusuf untuk gerhana bulan.

sholat Gerhana

Dalam pandangan Islam, sangat dianjurkan bagi seseorang yang menyaksikan gerhana untuk melakukan shalat gerhana. Hukum ibadah ini adalah sunnah muakkadah sebagaimana disepakati oleh para ulama berdasarkan dalil dari ayat 37 Surat Al Fushshilat :
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganla kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya. (QS. Fushshilat : 37)

Dan hadist Rasulullah :

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Sebagian ulama terutama dari mazhab Hanafi meletakkannya dalam derajat wajib karena berpatokan dari hadist Rasulullah SAW :
فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ

Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.

Tata cara dan Bacaan Doa shalat Gerhana

Dalam melaksanakan Sholat gerhana, para ulama bersepakat bahwa sebaiknya dilaksanakan secara berjamaah karena dahulu Rasulullah memberikan contoh dengan mengerjakannya secara berjamaah di Masjid sebagaimana tersebut dalam hadist :
Aisyah radhiyallahu 'anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru "ASH SHALATU JAMI'AH" (mari kita lakukan shalat berjama'ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku' dan empat kali sujud dalam dua raka'at. (HR. Muslim no. 901)

Perlu diketahui bahwa panggilan untuk melaksanakan ibadah ini tidak didahului dengan azan atau iqamat, namun disunnahkan melakukan panggilan dengan lafaz "As-Shalatu Jamiah". Hal ini didasari hadist Bukhari :
لَمَّا كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ  نُودِيَ : إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ

Ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah SAW, orang-orang dipanggil shalat dengan lafaz : As-shalatu jamiah". (HR. Bukhari).
Dalam pengerjaannya dilakukan sebanyak dua rakaat dengan dua kali ruku dalam tiap rakaatnya. Hal ini didasari dari hadist :
Dari Abdullah bin Amru berkata,"Tatkala terjadi gerhana matahari pada masa Nabi SAW, orang-orang diserukan untuk shalat "As-shalatu jamiah". Nabi melakukan 2 ruku' dalam satu rakaat kemudian berdiri dan kembali melakukan 2 ruku' untuk rakaat yang kedua. Kemudian matahari kembali nampak. Aisyah ra berkata,"Belum pernah aku sujud dan ruku' yang lebih panjang dari ini. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist lain lebih detail menyebutkan tata cara dan lamanya bacaan sholat Gerhana sebagai berikut :
ابْنُ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - قَال : كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ فَصَلَّى الرَّسُول وَالنَّاسُ مَعَهُ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الأْوَّل ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأْوَّل

Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, dia berkata bahwa telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW melakukan shalat bersama-sama dengan orang banyak. Beliau berdiri cukup lama sekira panjang surat Al-Baqarah, kemudian beliau SAW ruku' cukup lama, kemudian bangun cukup lama, namun tidak selama berdirinya yang pertama. Kemudian beliau ruku' lagi dengan cukup lama tetapi tidak selama ruku' yang pertama. (HR. Bukhari dan Muslim)
Berikut adalah tata cara pengerjaannya :
  1. Membaca niat shalat gerhana dalam hati :
    أُصَلِّيْ سُنَّةَ لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
    Aku niat Shalat gerhana bulan dua rakaat karena Allah ta’ala
  2. Takbiratul ihram sebagaimana shalat biasa
  3. Membaca doa istiftah dan berta'awudz, dilanjutkan membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang dan boleh dengan cara sirr (merendahkan suara) maupun dengan jahr (mengeraskannya)
  4. Kemudian ruku' pertama yang dilakukan secara lama / memanjangkannya dengan kisaran sekitar lamanya saat membaca 100 ayat surat Al Baqarah.
  5. bangkit dari ruku' (i'tidal) sambil mengucapkan Sami' Allahu liman hamidah, Rabbana wa lakal hamd dan dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya
  6.  Kemudian ruku' kembali (ruku' kedua) dengan waktu yang lebih pendek sekitar lamanya 80 ayat surat Al Baqarah.
  7. i'tidal kedua yang dilakukan lebih pendek dari yang pertama.
  8. Sujud pertama dengan lama yang sekisaran sama waktunya dengan seperti ruku pertama (sekitar 100 ayat surat Al Baqarah).
  9. duduk di antara dua sujud.
  10. Sujud kedua dengan lama sekitar 80 ayat Al Baqarah.
  11. Bangkit dari sujud dan mengerjakan raka'at kedua sebagaimana raka'at pertama, namun dengan bacaan yang lebih pendek yaitu ruku pertama dan sujud pertama rakaat kedua selama 70 ayat Al Baqarah, sementara ruku' kedua dan sujud kedua rakaat kedua selama 50 ayat Al Baqarah.
  12. Setelah selesai mengerjakan ibadah, imam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah. Namun begitu Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah menyebutkan tidak mensyariatkan adanya khutbah, sementara Al-Malikiyah mensunnahkan untuk diberikan peringatan namun tidak berbentuk khutbah formal.

Selain mengerjakan shalat gerhana diatas, maka disunnahkan memperbanyak doa, dzikir, takbir dan sedekah.

Wallahu a'lam bishshawab.
Sholat Gerhana : Tata Cara, Bacaan dan Doa
About
Sholat Gerhana : Tata Cara, Bacaan dan Doa - written by anonim, published at 04.59, categorized as islami
Copyright ©2014 DUDIJAYA.ME |
Powered by Blogger