Puisi Ibu Tercinta Yang Indah

by anonim , at 20.51
Puisi Ibu penuh keindahan dibawah brikut adalah berbagai puisi yang dihadirkan untuk menghormati, menghargai dan menyanjung ibunda, sang pelita hati kita yang mengandung kita selama 9 bulan, mengais kita saat kecil, dan menjunjung kita saat dewasa. Begitu besar jasa sang bunda sehingga Nabi pun sampai menyatakan bahwa surga berada ditelapak kaki ibu.

Menghormati dan menghargai ibu adalah sebuah perbuatan bijak yang sangat terpuji, dan kalau Tuhan tidak melarang untuk menyembah manusia, maka ibulah yang pertama kali akan ditunjuk Tuhan untuk disembah. Oleh karena itu, dibawah ini adalah beberapa puisi ibu yang sangat indah, penuh hikmah perkataan bijak dan nasehat yang dalam.

puisi ibu

Pelita telah datang
Kau nyalakan untuk kami
Dalam remang , dalam gelap

Ibu..
kasihmu adalah jalan yang indah
Penuntunku melewati titian
Untuk menggapai masa depan

Ibu..
Kini telah hilang deritaku
Kini telah sirna kesedihanku
Karena kau telah berpijak ke tanah kami
Tanah bumbu bumi bersujud

Ibuku yang tercinta
Bunga hatiku,
matahari hidupku.



ibu adalah cinta,
tak ada kutuk dalam doanya,

hai malin, bukan salah ibu
jika hatimu membatu

karena ibu adalah airmata,
menahan demam ubun kepala

ibu adalah cahaya,
benderang di dalam hidup ananda

sebagai doa
sebagai cinta

ibu menyerta



kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunpun gugur bersama reranting
hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sarisari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku

kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu



Saat pulas tidurmu kucium lembut pipi mungilmu dan kuusap rambutmu
sungguh anakku, ibu mencintaimu

Maafkan ibu, anakku ketika tadi siang
engkau kubentak karena adik baru tidur dalam pelukanku
sedangkan badanku penat bukan main lantas engkau menjauh
sambil tetap memandangku

Maafkan ibu, anakku ketika jari ibu
meninggalkan bekas merah di pahamu
hanya karena engkau makan sembari bermain-main
lalu nasimu tumpah ke lantai tapi engkau tak menangis,
hanya mata beningmu menatapku dengan takut-takut

Maafkan ibu, anakku yang menolak bercerita saat engkau ingin mendengar kisah
yang bisa membuatmu tertawa gembiraatau menitikkan air mata,
hanya karena ibu sedang lelah....
atau ibu sedang sibuk dengan pekerjaan lainnya

Maafkan ibu, anakku yang tidak lebih awal menjumpaimu untuk sekedar
duduk dan bermain bersama hanya karena ibu ingin
melakukan sesuatu untuk diri ibu...
anakku,
betapa ibu merasa bersalah
begitu ibu tahu engkau sangat dan sangat rindu duduk dipangkuanku

Maafkan ibu, anakku yang marah kepadamu
hanya karena kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahanmu...
ibu marah hanya karena ibu letih mengerjakan pekerjaan seorang ibu

Maafkan ibu, anakku
terkadang ibu ingin bisa membagi tubuhku agar segala keinginanmu terpenuhi...
sedang sebagian tubuhku yang lain mengerjakan tugas dan pekerjaan yang lain lagi..

Maafkan ibu, anakku
yang tidak mampu memberikan seluruh waktuku untukmu...

andai engkau tahu sayangku...
betapa ibu sangat mencintaimu,
betapa ibu terkadang bisa begitu ketakutan akan kehilanganmu,
betapa ibu bisa tertawa hanya karena tingkahmu,
betapa ibu bisa menangis tatkala melihatmu kecewa,
betapa ibu khawatir ketika engkau sakit..

Anakku,
sungguh ibu tak mengharap apa-apa
tatkala ibu berjuang menghadirkanmu ke dunia,
mendengar engkau sehat... itu saja telah mampu
menghilangkan seluruh derita

Sering ibu bertanya,
marahkah engkau pada ibu yang telah
marah kepadamu..
gelengan kepalamu membuat ibu lega,
walau tetap tak akan mampu menghapus rasa sesal dihatiku

Sungguh anakku,
cinta ibu padamu hanya Tuhan yang tahu...
tak pernah seseorang bisa mengukur dalamnya
cinta seorang ibu pada anaknya,
sampai ia kelak menjadi seorang ibu.

Maafkan ibu, anakku...
yang tak mampu menjadi ibu sebagaimana
seharusnya seorang ibu yang sempurna

Anakku...
ridha ibu adalah milikmu
agar kelak engkau mudah memasuki surga-Nya
(hanya itu mungkin, yang mampu ibu berikan untukmu, duhai permata hatiku......)



ernyata malam-malam menawarkan secangkir kopi
yang tumpah di meja, dan kelebat kepak kelelawar
lihatlah betapa telah patah sayapnya: mengabarkan
deretan angka yang terlalu panjang perihal ternoda

duhai ziarah yang mendaki siapakah tak terlempar
dari musim yang berseteru, dan cuaca betapa buruk

perjalanan menuju senja mengapa juga berkelahi
setengah hati, bahkan alamat saja malah tercuri
maka biarlah debu dan rindu pada ibu terburai
pada mimpi dan puisi, yang bergemetaran di hati

Anakmu,



Ibu
Hari ini kembali kusuarakan
Luluh jasad ini, seakan hampa tanpamu

Ibu
Baru kemarin darahmu menyertai kelahiranku
Baru kemarin kau meregang nyawa untuk melahirkanku

Ibu
Baru kemarin kau susui aku dengan air susumu
Baru kemarin kau jaga tidurku dari dinginnya malam

Ibu
Baru kemarin kau suapi aku dengan kesabaranmu
Baru kemarin kau temani aku bermain
Baru kemarin kau sisiri rambutku
Baru kemarin kau menasihatiku

Ibu
Kini kau berbaring lemah karena sakit
Kini kau terbujur kaku
Kini kau terbungkus kafan
Kini kau dikebumikan

Ibuuuuuuu
Belum sempat kubayar kesedihanmu
Belum sempat kutebus air matamu
Belum sempat kubalas semua ketulusanmu
Belum sempat kumengabdi kepadamu

Ibu
Ibu
Ibuuuuuuu

Ya Robb
Ma’apkanlah semua kesalahan ibuku
Ampunilah segala dosa ibuku
Tempatkanlah ia di surgaMu
Tempatkanlah ia di sisiMu


Masih ku ingat caramu membelai
Masih ku ingat senyuman yang dulu kau urai
Membuatku semakin terbuai
Atas kenikmatan yang tak pernah bisa ku rangkai

Pelukanmu membuatku melayang
Candaanmu memberikanku ruang
Nyanyianmu menjadikanku riang
Ketelatenanmu mengajarkanku tentang arti kasih sayang

Darimu, aku merasakan kehangatan
Bersamamu, aku memperoleh kebahagiaan
Karenamu, aku mendapat sinar harapan
Dan demi kamu, aku menyongsong masa depan

Aku ingat saat diriku menangis
Merasakan luka disekitar betis
Engkau datang bak seorang tim medis
Menyelamatkanku dari derita tragis

Diriku pun semakin tumbuh
Dimana-mana membuat gaduh
Tapi dirimu tak pernah mengeluh
Tuk jadikanku pribadi yang tangguh

Aku ingat saat menginjak remaja
Diriku selalu berfoya-foya
Menghabiskan semua uang yang ada
Sampai ada surat dari sekolah yang kau terima

Ayah menjadi sangat gusar
Memarahiku dengan kasar
Tapi engkau membelaku dengan penuh rasa sabar
Walau aku melakukan kesalahan besar

Ketulusanmu membuatku sadar
Atas kelakuanku yang slama ini tak wajar
Aku pun mulai belajar
Agar masa depanku tak lagi pudar

Kini aku sudah tumbuh dewasa
Tak lagi melakukan hal yang sia-sia
Hanya satu yang ingin ku rasa
Selalu membuatmu bangga

Terima kasih Ibu
Cinta kasihmu akan melekat didalam kalbu
Kasih sayangmu akan selalu bersamaku
Jasa-kasamu akan kuingat sepanjang waktu

Terima kasih Bunda
Kini putramu semakin dekat dengan cita-cita
Doa yang slama ini kau pinta
Akan kubuat menjadi nyata

Terima kasih Mama
Terima kasih atas segala bekalnya
Akan kujadikan semua ini senjata
Untuk memerangi kejamnya dunia

Terima kasih Malaikatku
Sayap yang tlah kau berikan padaku
Kini membuatku terbang menuju impianku
Walau ku tahu jalan itu akan berliku
Aku yakin, restumu akan memastikan keberhasilanku

Terima kasih Pahlawanku
Pedang yang slama ini kau wariskan padaku
Kini telah menebas keraguan dalam hidupku
Meyakinkanku untuk selalu terus maju
Menghadapi semua rintangan yang ada didepanku



Ibu... yang sabar ya,,
Sabar mendidik anak-anakmu yang sering nakal
Sabar melayani ayah yang mungkin banyak maunya
Sabar ketika tak ada yang membantumu mengurus pekerjaan rumah
Sabar jika kau tak lagi sempat berekreasi barang sejenak
Sabar jika mungkin kau tak lagi bisa membeli dan melakukan banyak hal yang kau suka dan kau inginkan seperti beberapa ibu yang lain.

Ibu yang kuat dan ikhlas ya,
Kuat dan Ikhlas ketika anakmu telah tumbuh dewasa namun masih sering membantah
Kuat dan Ikhlas ketika anakmu harus pergi jauh darimu demi meraih impiannya
Kuat dan Ikhlas jika terkadang ayah juga menyakiti hatimu.

Percayalah Ibu,
Alloh akan memuliakan seorang ibu yang begitu baik sepertimu.



itulah kumpulan beberapa puisi ibu yang semoga bermanfaat untuk anda.
Puisi Ibu Tercinta Yang Indah
About
Puisi Ibu Tercinta Yang Indah - written by anonim, published at 20.51, categorized as kata
Copyright ©2014 DUDIJAYA.ME |
Powered by Blogger